Solusi Penanganan Banjir di TPI, Pj Kades Panciro Puji Warga Terlibat Dalam Pengambilan Keputusan

Ikuti perkembangan terbaru dan informasi penting dari Desa Panciro

24 September 2025
4 bulan yang lalu
admin
Dibaca 42 Kali
Solusi Penanganan Banjir di TPI, Pj Kades Panciro Puji Warga Terlibat Dalam Pengambilan Keputusan

Gowa-metro-pendidikan.com. Banjir yang berlangsung setiap tahun menggenangi rumah penduduk di kompleks Perumahan TPI (Taman Panciro Indah) akan teratasi setelah para ketua RT, ketua RW bersama warga setempat menggelar musyawarah untuk mencari solusi terbaik akibat kepungan air hujan dari berbagai penjuru yang masuk ke wilayah TPI Panciro.

Musyawarah warga yang diinisiasi oleh Ketua RW 2 Yoyok Sunaryo bersama tiga ketua RT dan tokoh masyarakat di kompleks Perumahan TPI, berlangsung di rumah Ketua RT 1 Rabu (24/9/2025) malam.

Kegiatan ini, selain dihadiri Pj Kades Panciro Asram Suhendra, ST, M.Ap, Sekretaris Desa Panciro Abd Rahman Rani, Kasi Pemerintahan Muh Fhadly, S.Sos, Kepala Dusun Bontoramba Rispandi Naja, juga hadir anggota BPD Panciro yakni Sukmawati dan Herlina.

Yoyok Sunaryo yang membuka musyawarah warga memaparkan sejumlah permasalahan terkait banjir kiriman banjir yang menimpa warga TPI. Bahkan, pihaknya terutama dari pemerintah desa bersama warga mengeruk saluran air dan drainase melalui kerja bakti. Namun, tidak mengurangi volume air hujan berkurang, malah kian tergenang atau tidak mengalir keluar dari Perumahan TPi.

Masalahnya, lanjut Yoyok Sunaryo, saluran air yang melintas ke Perumahan TPI dari arah timur ke barat, sudah terjadi pendangkalan ditambah lagi adanya dekker di Jl Rongke juga terbilang kecil. Sehingga menghambat pergerakan air hujanl/banjir kiriman dari TPI ke hilir tidak lancar.

Belum lagi sebagian titik saluran air dengan tumpukan sampah plastik dan pohon yang tumbang menjadi penghalang lancarnya air di saluran tersier tersebut. Lebih parah lagi, di hilir tepatnya di Kampung Bila/Ujung Bulo, Kelurahan Lembang Parang saluran air kecil serta ada gorong yang berukuran sekitar 30 cm justru menjadi pemicu air dari TPI tidak bisa mengalir dengan lancar.

Tidak hanya itu, seiring perkembangan wilayah dan bangunan warga yang kini mulai padat dan mengelilingi Perumahan TPI yang struktur tanahnya memang rendah. Air hujan datang dari segala penjuru, kemudian fokus mengalir dan terbuang total ke saluran tersier hingga meluber ke wilayah kompleks Perumahan TPI Panciro.

“Air hujan yang telah tergenang di dalam perumahan TPI tidak bisa lagi dibuang ke saluran sekunder di bagian utara Jl Barombong. Karena kondisi air di saluran sekunder tersebut lebih tinggi, sementara permukaan tanah di TPI rendah. Begitu dibuka akses air keluar dari TPI ke saluran sekunder, akan lebih fatal lagi”, tambah Sekdes Panciro, Abd Rahman Rani.

Akumulasi permasalahan ini, mendapat respon dan tanggapan sekaligus solusi dari hasil diskusi kecil oleh peserta musyawarah warga tersebut. Misalnya, Rustan Dg Rapi yang menanggapi saran dari Abd Rahman Rani perlunya menutup saluran air di perbatasan Dusun Bontoramba Selatan (Panciro) dengan wilayah Dusun Boka (Tinggimae) untuk mengurangi volume air hujan/banjir kiriman masuk ke Perumahan TPI.

“Saya setuju kalau saluran tersier diperbatasan, tepatnya di gudang jagung itu tutup saja. Tapi, Pemerintah Desa Panciro harus lebih dulu berkoordinasi ke pihak Pemerintah Desa Tinggimae supaya warga di sana tidak keberatan”, tukas Rustan sembari mengaku siap memfasilitasi ke pihak pengelola Aliran Irigasi Bendungan Kampili.

Sementara peserta musyawarah lain, memberi masukan perlunya saluran tersier di bagian barat Perumahan TPI dikasih naik lumpurnya yang menjadi menyebab pendangkalan pada saluran tersebut.

“Saya kira itu dulu, kemudian kita sisir pembersihan sepanjang saluran tersier hingga perbatasan Panciro dengan wilayah Lembang Parang”, katanya.

Seperti warga lainnya, Abd Rahman memberi solusi terhadap genangan air yang tinggi dalam kompleks perumahan TPI yakni melalui pompanisasi dan air tersebut dibuang ke saluran sekunder.

“Upaya ini tentu untuk jangka panjang seperti yang berlaku di Jakarta. Pemerintah desa harus dipikirkan pengadaan mesin pompa air melalui APBDes dalam bentuk usulan program pada Musrembang tingkat desa. Tapi ini, pilihan terakhir dan prioritas utama adalah pembersihan saluran tersier, pengerukan lumpur drainase depan rumah warga dan tutup saluran di perbatasan wilayah Panciro bagian selatan”, tambah Rahman Rani.

Pj Kepala Desa Panciro, Asram Suhendra yang menyimak diskusi tersebut, lalu ia menyebutkan ada tiga diskursus penting sekaligus menjadi solusi dari musyawarah warga TPI malam ini. Yakni rencana penutupan saluran air di perbatasan Panciro- Tinggimae, pembersihan saluran air dari sampah dan pohon tumbang serta kerja bakti warga TPI mulai Ahad depan.

Asram Suhendra menegaskan, sekecil apapun permasalahan yang berdampak kepada warga atau masyarakat harus terlibat dalam pengambilan keputusan. “Termasuk masalah banjir di TPI setiap tahun meresahkan mereka, diharapkan terlibat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri melalui musyawarah dan pemerintah desa tetap hadir memberi support dan memfasilitasi setiap kegiatan kerja bakti atau gotong royong yang dilakukan oleh warga”, tandas Bendahara KNPI Gowa ini.

Proses pengambilan keputusan yang dimulai dari warga melalui mekanisme musyawarah, Asram Suhendra, itulah cerminan demokrasi yang sesungguhnya dan pihak pemerintah sendiri harus mengedepankan sistem botton up (arus bawah) bukan sebaliknya sistem top dawn (arus atas).

“Musyawarah warga TPI dalam menyoal isu banjir kali ini dengan memberi solusi tak lebih mereka dapat menyelesaikan masalahnya dengan penguatan sistem botton up. Kita juga harapkan warga di dusun lain dapat melukakan hal sama”, ujar Asram sembari berpendapat bahwa memberi ruang dan akses yang luas bagi masyarakat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di wilayahnya, itu juga bagian dari spirit undang-undang desa dan harapan pemerintah. **

Laporan : Darwis Jamal

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar